Ngrembuk Gayeng ” Menggali Kisah Hidup dan Peradaban Mbok Mase”

Ndalem Gondosuli sebagai gallery batik & education, berupaya mengambil peran edukasi dalam bidang kebudayaan batik. Salah satu kegiatan yang diselnggarakan adalah Diskusi dan Penulisan di bawah program Riset dan Pengembangan batik, Divisi Workshop & Education.

Kampung Batik Laweyan merupakan kawasan sentra batik yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546 M. Seni batik tradisional yang dulu banyak didominasi oleh para juragan batik sebagai pemilik usaha batik, sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat setempat. Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan rumah para juragan batik yang dipengaruhi arsitektur Jawa, Eropa, Cina, dan Islam. Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan pagar tinggi atau “benteng” yang menyebabkan terbentuknya gang-gang sempit spesifik seperti kawasan Town Space.

Potensi Kampung Batik Laweyan kami angkat dalam diskusi yang bertajuk Ngrembuk Gayeng dengan tema “Menggali Kisah Hidup dan Peradaban Mbok Mase Laweyan” dengan pendekatan sejarah. Kami hadirkan narasumber dari Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), Dosen Sejarah, dan Masyarakat setempat sebagai saksi hidup kehidupan Laweyan masa lampau.

Ibu Dhian Lestari Hastuti, M.Sn – Dosen Prodi Desain Interior ISI Surakarta
Bp Ir. Alpha Febela Priyatmono, MT. – Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL)
Bp Heri Priyatmoko, S.S., M.A. – Sejarawan Kota Solo
Sulistyadi – Keluarga Pusposoemartan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tema besar kehidupan dan peradaban Mbok Mase, akan dikupas dari sudut pandang sejarah sejarah yang akan didiskusikan para narasumber dan audiens. Mbok Mase memiliki peran penting dalam mengembangkan Batik Solo. Seperti contoh, menggeser dari batik tulis ke batik cap pada abad ke-20 yang akhirnya membawa puncak kejayaan bagi batik Laweyan saat itu. Mbok Mase merupakan sosok yang luar biasa karena selain sebagai ibu rumah tangga, Mbok Mase juga sebagai pemimpin usaha batik karena mempunyai kekuasaan penuh dari mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, hingga distribusi batik. Dalam usaha batiknya, peran Mas Nganten sangatlah minim, namun demikian, Mbok Mase tetap menghormati Mas Nganten sebagai seorang suami.

Mbok Mase sebagai pengusaha batik memiliki kesadaran-kesadaran yang diterapkan dalam pengelolaan usaha maupun kehidupan keseharian. Banyak hal yang menjadi potensi sejarah dari sosok Mbok Mase, mulai dari penerapan sistem usaha, kebudayaan, seni, keterampilan, busana, adat-sitiadat, bangunan, maupun foklore yang menjadi nilai historis daya tarik untuk datang ke Kampung Batik Laweyan. Terciptanya diskusi santai yang padat atas nilai pembahasa, yang dapat menjadi refleksi kehidupan masa lampau untuk kita coba gali dan terapkan dimasa sekarang.

Tujuan yang hendak di capai dari kegiatan adalah sebagai berikut; Terciptanya forum diskusi dengan membahas kehidupan dan peradaban Mbok Mase Laweyan, penyusunan kajian dan penulisan ilmiah hasil diskusi yang memperkuat identitas sejarah Laweyan, dan menumbuhkan gagasan dan pemikiran mengenai pengembangan kebudayaan.

Acara dimulai pukul 11.00 yang dibuka oleh moderator Ibu Dhian Lestari Hastuti, M.Sn., Dosen Program Studi Interior ISI Surakarta. Dilanjutkan dengan pemaparan para narasumber. Pertama Bapak Ir. Alpha Febela Priyatmono, MT., Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Beliau menyampaikan mengenai perkembangan pembatik di Kampung Batik Laweyan, muali dari jumlahnya industri batik aktif di masa lampau hingga sekarang. Selain itu beliau menyampaikan mengenai rumah di Kampung Batik Laweyan, mulai dari kriteria kecil, sedang, hingga besar. Disampaikannya etos kerja dan cara mendidik anak Mbok Mase, dengan memberi saku berupa kain jarik ketika bepergian. Narasumber ke dua Bapak Heri Priyatmoko, S.S., M.A., Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Beliau menyampaikan materi mengenai perdagangan dan kehidupan sosial Mbok Mase, dikemas dalam bentuk powerpoint dengan menunjukkan sumber literasi yang jelas. Mulai dari sumber koran, novel, maupun karya tulis masa lampau. Pembawaan materi yang lugas dan bahasa keseharian membuat para peserta tertawa lepas, bernostalgia dengan cerita sejarah yang menginspirasi dan menumbuhkan semangat kejayaan masa lampau.

 

 

 

 

 

Dilanjutkan dengan nara sumber ke tiga, Bapak Sulistyadi Keluarga Pusposumartan. Beliau menyampaikan mengenai silsilah keturunan Pusposumartan dan Tjokromumartan. Mengenai kepemilikan lahan daerah Ndalem Gondosuli, dan keinginan untuk melacak dan menulis mengenai keluarga tersebut. Diskusi semakin menarik dengan penyampaian dari peserta diskusi, Bapak Warrdi salah satu peserta yang merupakan masyarakat Kampung Batik Laweyan. Beliau sebagai saksi hidup dan tokoh masyarakat setempat mengemukakan mengenai sejarah Kampung Batik Laweyan, masamasa kejayaan, kehancuran, dan kebangkitan serta peninggalan-peninggalan sejarah yang dapat diangkat sebagai potensi wisata Kampung Batik Laweyan.

 

 

 

 

 

 

 

Dibukanya sesi tanya-jawab dari peserta, memberi kesempatan untuk diskusi lebih mendalam hingga pukul 13.30. Kegiatan Ngrembuk Bareng direncanakan akan berkelanjutan pada diskusi berikutnya, dengan tema Mengemas Budaya Laweyan dalam Seni Pagelaran. Berikunya kegiatan Ngrembuk Bareng akan menjadi wadah bagi komunitas, akademisi, praktisi, dan sebagainya dalam bertukar pemikiran dalam koridor seni dan kebudayaan yang diselenggarakan secara berkelanjutan.

Leave a Reply